Hujan diluar mengiringi perjalanan malam mereka. Dingin dalam mobil tak terasa lagi bagi Airin Hanya Airin yang masih terjaga Dinikmatinya setiap detik berharga ini
Disebelahnya ada Samudra begitu dekat hingga Airin bisa mendengarkan jantungnya berdetak Sangat dekat hingga dengan puasnya Airin memperhatikan setiap lekuk wajah Samudra yang begitu tegas, mengagumi pahatan Tuhan yang sangat jelas diwajah Samudra Airin adalah penggemar berat wajah Samudra Bukan karna kulit mulus atau wajah tampannya Tapi lebih pada maha karya Tuhan yang terpahat jelas disana Amat dekat, bahkan gelapnya hari tak menjadikan mata Airin kehilangan pemandangan menakjubkan ini
Samudra tertidur didekatnya, tepat disebelahnya Lengan mereka bersentuhan hanya terbatasi jaket yang mereka kenakan Mata lelah Airin tak membuat hatinya lelah berdoa Dengan kepala bersandar pada bahu Samudra, tangannya menggenggam Samudra dan dalam diam Airin memohon
“Tuhan izinkan aku bukan hanya menyandarkan kepalaku padanya tapi juga hidupku Izinkan dia menjagaku bukan hanya dalam perjalanan ini tapi juga sepanjang hidupku izinkan kami saling menggenggam dan berbagi hidup Dan bila hal ini harus berakhir, izinkan aku mengingat doa ini agar kelak dapatku katakan padanya aku mencintainya aku mencintainya, Tuhan"
Mata Airin terpenjam namun air mata tak mampu berdiam Cairan hangat itu membanjir dalam tidur Airin Dia tau cintanya tak mungkin berbalas. Dia sangat sadar Samudra tak mungkin berpaling padanya itu kenyataan yang tak bisa ia hindari, Samudra to good to be true
Airin mensyukuri kedekatannya dengan Samudra belakangan ini namun ia sadar Samudra tak pernah memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia tak pantas untuk bersama Samudra. Samudra terlalu jauh untuk dijangkau Bisa menggenggamnya sekarang lebih karena keberuntungan semata atau bahkan kondisi yang membuatnya nyata dirinya menggenggam Samudra
Sesaat kemudian matanya terbuka dan menatap Samudra Sambil menatap ia berkata “I love you Samudra Pramana”
disela hingar bingar kampus dan teriknya matahari. Seorang teman tiba-tiba berkata sambil menarik tangan Airin, hingga es jeruk ditangannya nyaris tumpah
"ai, denger deh, denger deh. Katanya Samudra pengen punya istri yang bisa diajak susah, trus gw langsung bilang eeheem klo gitu sih Airin pasti bisa jadi istri lu hahahahaha soalnya lu khan paling semangat tuh klo diajak ngomong soal memulai hidup baru dari awal" celotehnya
Airin menatap Samudra yang ada dihadapannya, tepat disebelah teman kami.
sebatang rokok ditangannya dan asap tebal disekeliling wajahnya
tenggakan pertama es jeruk masuk tenggorokan Airina sangat manis terasa
Samudra menatapnya diam, demikian juga Airin
hanya mata mereka yang bicara
I do, dra. Sahut Airin dalam hati
yaa, dia benar, memang kamu maksud saya Ai. Jelas Samudra dalam hati
*******
"ayo tebak Monas ada disebelah mana?"
tiba-tiba suara Samudra memecahkan hening diantara mereka
"monas? emmm" Airin melihat sekeliling sambil tetap duduk
"ayoo pasti ga tau monas dimana?" sahut Samudra dengan wajah usil
"enaak aja! tau kok sabaar lagi observasi nih" sahut Airin
panasnya matahari sore tak begitu terasa
karena kereta pilhan mereka cukup lengang hari ini
Samudra menunggu jawaban Airin dengan wajah usil
dia tau Airin punya masalah cukup parah soal pemetaan
"disanaaaa" tunjuk Airin penuh percaya diri
"hahahahahah dasar dodol lu, kita khan mau ke arah Depok jadi Monas ada disitu. tuh depan mata lu bentar lagi ada monas" jelas Samudra sambil menunjuk monas yang mulai terlihat emasnya perlahan.
"yaaah td tuh gw mau ngetes aja, lu tuh sebenernya nanya atau ngetes. gw tau kali monas disitu" jelas Airin tidak mau terlihat bodoh
"halaah, udah ngaku aja klo ga tau kenapa sih? gw tau ya pemetaan lu tuh minus" jelas Samudra sembari memicingkan mata
"enggak, gw tau kok weeek!" cibir Airin
obrolan tentang jalan, tempat, arah terus berlanjut sampai kereta memasuki statsiun Depok
matahari sore terasa hangat walau menyengat
hati Airin menghangat, namun ia tak tau mengapa
Samudra terus menatap, mendengarkan setiap kalimat yang terluncur dari bibir mungil Airin
mata Samudra telah memilih, mengatakan yang bibirnya tak mampu ucapkan
******
perjalanan pulang hari ini sangat melelahkan
mata Airin tak lagi dapat menahan kantuk
begitu juga wajah Samudra yang tampak lain, lelah
hari ini pekerjaan kami tidak banyak
hanya saja macetnya perjalanan pulang membuat kami jenuh
"waduuh itu orang naek motor bawa anak banyak banget" Airin terbelalak melihat pengguna motor di sebelahnya
"iyaa yaa, satu dua tiga, anaknya tiga Ai sama bapaknya sama ibunya jadi berlima. gila yaa kayak akrobat"sahut Samudra setelah selesai menghitung
"duuh, gw mah mendingan naek angkot deh daripada bawa anak naek motor begitu"sahut Airin dengan ekspresi prihatin dan takut
"emang lu mau punya anak berapa?"tanya Samudra tiba-tiba
"empat! pertama cowo, kedua cewe, ketiga cowo, keempat cewe. jadi selang seling gitu. seru khan? pasti rame deh" jawab Airin cepat
"banyak juga yaa, kayak gw haha. jangan kangen nyokap" sahut Samudra singkat
"klo lu mau punya berapa?"tanya Airin tanpa ragu
"enaknya berapa ya? berapa ai menurut lu?"tanya Samudra balik
Airin tertegun. terdiam dan menunjukan ekspresi kaget
mengisyaratkan pertanyaan loh kok nanya gw? emg saya ini calon ibu dari anak-anakmu yaa? hihihihih
melihat eskpresi kaget Airin, Samudra cepat meralat walaupun wajah paniknya tak bisa ditutupi
seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah
"eh mksd gw menurut lu berapa bagusnya? 3 aja kali yaa soalnya gw juga berempat jadi udah rame banget rasanya. klo anak gw banyak juga waduuh bingung klo ngadain arisan" jelas Samudra
"haa? arisan?"Airin melongo
"iya, lu bayangin aja klo gw sama kakak adek gw semua punya anak 4. bapak ibu nya aja udah ada 8 trus ditambah 16, blum lagi sepupu2 yaah kira2 100an lah. waduuh bingung nyari tempatnya khan" jelas Samudra asal
"hahhahahaha alesan lu. tapi tiga juga oke kok hehehe. tapi gw tetep 4 soalnya ga enak banget klo ngikutin pemerintah pake slogan 2 anak cukup. sepi banget deh rasanya" jelas Airin
************
this's random conversation from the story that i was writing
hopefully i can make my own novel
amiinn
*dengan kesotoyan tingkat tinggi pastinya hehe*