aku berhenti pada satu titik dan kembali menyadari, "ahh lagi lagi mencintai orang yang salah".
hai hati, tak bisakah kau sedikit pilih pilih?
tak bisakah kau melihat orang ini sebagai yang tak seharusnya kau cintai?
ahh hati, kau memang terlalu.
12 Maret 2013
Catatan Rasa
kalau ini adalah perjalanan tentang rasa, maka izinkan aku merasakan apa yang seharusnya aku ingin rasakan. kalau ini permulaan, maka izinkan aku mulai menuliskan catatan kecil pada setiap perjalanan yang kita lakukan.
seperti kalimat pada buku bagus milik seorang teman, "perjalanan itu bersifat pribadi. kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku" (Paul Theroux). aku setuju. perjalanan ini walau dilakukan bersama belum tentu untuk bersama. aku berjalan bersama mu, kamu ada disampingku lantas tak berarti bersatu, bukan?
mencintalah seadanya, sebagaimana mestinya. tanpa paksaan. tanpa cercaan. tanpa pengalihan.mungkin nanti akan ada bagian dari perjalanan rasa ini yang perlu kita cermati lagi. perlu dikaji kembali. entah sekedar untuk meratapi atau mempertanyakan sebuah hal yang pasti. entahlah, aku merasakan kembali alur manis yang tersaji walau tanpa ikatan janji.
aku berani mengawali perjalanan ini, dengan mecintaimu seadanya. tepat pada porsinya. catatan ini aku buat untuk aku kaji kembali nanti. suatu hari aku akan datang padamu dengan sebuah janji, yang akan ku tepati pada diriku sendiri. untuk menceritakan padamu tentang rasa ini.
5 Maret 2013
Sejak kemarin, saya tasbihkan kamu sebagai laut. Mau ga mau, suka ga suka, buat saya kamu resmi jadi laut.
Bukan sekedar laut yang hanya diam dan membalas cerita saya dengan debur ombak. Bukan juga laut yang hanya menatap saya dari kejauhan.
Terima kasih sudah menjadi laut. Membebaskan saya dari tebaran sampah kehidupan. Menjernihkan saya saat keruh tak terelakan. Terima kasih sudah menjadi laut, walau tak bisa dimiliki namun kamu adalah sebuah hal yang pasti.
Tertanda,
Sungai disekitarmu..
Bukan sekedar laut yang hanya diam dan membalas cerita saya dengan debur ombak. Bukan juga laut yang hanya menatap saya dari kejauhan.
Terima kasih sudah menjadi laut. Membebaskan saya dari tebaran sampah kehidupan. Menjernihkan saya saat keruh tak terelakan. Terima kasih sudah menjadi laut, walau tak bisa dimiliki namun kamu adalah sebuah hal yang pasti.
Tertanda,
Sungai disekitarmu..
1 Maret 2013
Akar, Pohon dan Buah: Sebuah Analogi
Sama dengan pertemuan kita lainnya, banyak ucapannya yang lantas membuat saya terpelanting dan tersadar. Entah berawal dari mana, saya melontarkan pertanyaan yang lantas dijawabnya dengan analogi singkat. Jawabannya selalu singkat, padat, menancap.
Kamu terdiam sejenak, cuma bergumam "Iya ya". Saya tau maksudnya, tapi saya butuh lebih dari sekedar "Iya, ya", saya butuh lebih dari sekedar ditampar, mungkin saya butuh didorong dari gedung BCA di Sudirman yang tinggi menjulang itu. Saya butuh kamu untuk kembali membuat saya tersadar atas apa yang sudah saya sadari tapi tak mampu saya jalani.
Penjelasannya selalu tepat sasaran. Saya terdiam, menatap satu sudut matanya. Sebenarnya saya minta ditolong. Malam itu resmi saya melepas dia dan segala hal yang melekat padanya. Saya lega, terima kasih. Akhirnya, saya harus berani menghadapi apa yang sudah saya tau pasti terjadi. Melepas dia. Saya pensiun jadi Akar. Bukan berarti saya mau jadi Buah. Saya hanya ingin menemukan orang yang tanpa saya, dia ga lengkap dan saya hanya separuh tanpa dia.
Saya ga butuh waktu lama mencerna analoginya, karena saya tau kamu yang paling tau cerita ini. Dimana awalnya, kemana akhirnya, saya rasa kamu yang akan selalu saya bagi. Terima kasih sudah ada dan menjadi nyata hari ini :)
"Lu tau cerita gw sama dia kan? Gw selalu cerita sama lu"
"iyaa"
"Cerita dia sama pacarnya tau dong? Gw juga cerita kan hahaha.
Cerita dia sama perempuan-perempuan lainnya juga paham dong.
Seenggaknya sama yang terakhir ini lah"
Cerita dia sama perempuan-perempuan lainnya juga paham dong.
Seenggaknya sama yang terakhir ini lah"
"iyaa"
"Dari semua cerita dia dengan mereka, where am I then?"
Kamu terdiam sejenak, cuma bergumam "Iya ya". Saya tau maksudnya, tapi saya butuh lebih dari sekedar "Iya, ya", saya butuh lebih dari sekedar ditampar, mungkin saya butuh didorong dari gedung BCA di Sudirman yang tinggi menjulang itu. Saya butuh kamu untuk kembali membuat saya tersadar atas apa yang sudah saya sadari tapi tak mampu saya jalani.
"Lu itu Akar, dia itu Pohon, mereka Buahnya.
Pohon tanpa Akar ga akan bisa survive, Akar tanpa Pohon, jadi apa coba? Ga bisa juga.
Tapi posisi lu selalu ga keliatan, ga bisa diliat karena lu adanya didalem tanah, tertutup.
Buah yang paling keliatan. Pohon tanpa Buah juga jelek kan? Kurang.
Karena Buah lebih keliatan, wajar kalau si Pohon
akhirnya lebih melihat Buah-buah cantik disekitarnya.
akhirnya lebih melihat Buah-buah cantik disekitarnya.
Tapi ga ada Akar, Pohon juga ga bisa hidup dan tanpa Buah, Pohon ga lengkap.
Dan tanpa Pohon, Akar ga punya arti. Cuman Akar."
Penjelasannya selalu tepat sasaran. Saya terdiam, menatap satu sudut matanya. Sebenarnya saya minta ditolong. Malam itu resmi saya melepas dia dan segala hal yang melekat padanya. Saya lega, terima kasih. Akhirnya, saya harus berani menghadapi apa yang sudah saya tau pasti terjadi. Melepas dia. Saya pensiun jadi Akar. Bukan berarti saya mau jadi Buah. Saya hanya ingin menemukan orang yang tanpa saya, dia ga lengkap dan saya hanya separuh tanpa dia.
Saya ga butuh waktu lama mencerna analoginya, karena saya tau kamu yang paling tau cerita ini. Dimana awalnya, kemana akhirnya, saya rasa kamu yang akan selalu saya bagi. Terima kasih sudah ada dan menjadi nyata hari ini :)
13 Februari 2013
Semua Manusia pada Satu Titik akan Berhenti...
Akhirnya punya waktu untuk sekedar memindahkan pembahasan iseng di gadget canggih sejuta umat ke media yang lebih luas jangkauannya.
Berawal dari obrolan iseng menjelang dini hari, entah dari mana saut menyaut ini terjadi. Saya sudah lama tidak mengasah rasa, mengubahnya menjadi rangkaian bahasa manis. Tapi malam itu, mungkin saatnya tepat sehingga ketikan jari gempal ini merangkai kata begitu saja. Tanpa tedeng aling-aling. Kalau saya bilang saut menyaut, tentu ada pihak lain dong? iya tepat, ada teman saya diujung sana. Berbagi kata lewat ketikan gadget canggih ini.
Diawali dengan sebuah kalimat pancingan "Semua manusia pada satu titik akan berhenti..." begini kira-kira kutipan percakapan malam itu........ *ceritanya menewarang*
Saya: "Your life, is too short to play safe. Don't waste your time, don't waste other's too. 2013, I dare you not to be afraid to be disappointed. You have no idea the bless/ lessons u'll get from that disappointment." - Pastor Jose Carol -- ini buat lu, kata saya
Mr. XYZ: "Pada satu titik aku harus berhenti. Bukan aku tak lagi percaya pada perjuangan. Tetapi aku ingin Surti dan ketiga anakku bisa hidup aman. Paling tidak, aku berhutang pada mereka selama tiga tahun hidup dalam perburuan. Hal 4" -- (beliau mengirimkan kalimat ini, tanpa kata pengantar)
Yang ternyata disusul dengan kalimat "Semua laki2 pada satu titik akan berhenti. Ada yang sekedar berlabuh, ada yang mengkaramkan perahunya pada satu pelabuhan. Namun sekarang laut masih luas diluar sana, gunung masih menantang, haruskah aku berlabuh sekarang? Mr. XYZ- 25 tahun - Baru dipamitan Mantan Nikah"
(saya lantas tertawa, miris sebenernya. beliau hanya menuntut saya membalasnya "ihhh R doaaang, balas dong" begitu ujarnya)
Saya: "Semua manusia pada satu titik akan berhenti. Entah untuk bersiap maju atau sekedar menyapu peluh. Semua manusia akan berhenti pada satu titik, bukan menyerah pada nasib tapi memberi ruang pada realita. Walau masih banyak bentang pilihan. Karena berhenti bukan pilihan, haruskah memilih untuk tidak memilih? (hanna, 24th, single, penuh kasih sayang dan segala yg kamu butuhkan. Call me *kedip kedip manja*) " -- Your turn master, ucap saya kemudian
Mr. XYZ: "Semua manusia akan berhenti pada satu titik. Saat dia tiba2 ditabrak takdir yang tak memberinya pilihan. Lalu tergopoh memilih yang ada di depan mata. Mr. XYZ, 25 tahun - Butuh cinta sejati"
Saya: "Semua manusia akan berhenti pada satu titik. Mungkin inilah saatnya ia berhenti karna ia tau cinta sejati tak harus dimiliki (hanna, 24 tahun, the girl who cant be moved)"
--Kemudian kami ngakak bersama. Ada jeda untuk makan malam dan berkumpul dengan keluarga, jadi gadget pintar kami simpan jauh-jauh dulu. Sampai akhirnya, sebuah kalimat masuk lagi ke gadget saya--
Mr. XYZ: "Semua manusia akan berhenti pada satu titik. Saat semua bintang berhenti menjadi penunjuk arahnya. Saat semua orang mulai sibuk dengan semestanya. Dan hari rabu semakin ragu-ragu. Namun ia akan berjalan terus, sesekali menengok untuk bercinta dengan kenangannya. Mr. XYZ - Setengah ngantuk setengah sadar"
Saya: "Semua orang akan berhenti pada satu titik. Entah karna kaki yang terlalu lelah atau cinta yang terlalu tua. Tak lagi berbalik dan berpikir 'tuk pergi. Mungkin karna malam terlalu larut atau karna cinta yang telah surut. Yang pasti, semua orang akan berhenti pada satu titik. Dimana pijakanmu pada bumi tak lagi menyatukan hati yang terpaut"
--Lantas kami mengucapkan selamat malam dan menemui peri malam--
Dengan menulis, kamu bisa membedakan mana kenyataan mana khayalan :)
Happy reading
Berawal dari obrolan iseng menjelang dini hari, entah dari mana saut menyaut ini terjadi. Saya sudah lama tidak mengasah rasa, mengubahnya menjadi rangkaian bahasa manis. Tapi malam itu, mungkin saatnya tepat sehingga ketikan jari gempal ini merangkai kata begitu saja. Tanpa tedeng aling-aling. Kalau saya bilang saut menyaut, tentu ada pihak lain dong? iya tepat, ada teman saya diujung sana. Berbagi kata lewat ketikan gadget canggih ini.
Diawali dengan sebuah kalimat pancingan "Semua manusia pada satu titik akan berhenti..." begini kira-kira kutipan percakapan malam itu........ *ceritanya menewarang*
Saya: "Your life, is too short to play safe. Don't waste your time, don't waste other's too. 2013, I dare you not to be afraid to be disappointed. You have no idea the bless/ lessons u'll get from that disappointment." - Pastor Jose Carol -- ini buat lu, kata saya
Mr. XYZ: "Pada satu titik aku harus berhenti. Bukan aku tak lagi percaya pada perjuangan. Tetapi aku ingin Surti dan ketiga anakku bisa hidup aman. Paling tidak, aku berhutang pada mereka selama tiga tahun hidup dalam perburuan. Hal 4" -- (beliau mengirimkan kalimat ini, tanpa kata pengantar)
Yang ternyata disusul dengan kalimat "Semua laki2 pada satu titik akan berhenti. Ada yang sekedar berlabuh, ada yang mengkaramkan perahunya pada satu pelabuhan. Namun sekarang laut masih luas diluar sana, gunung masih menantang, haruskah aku berlabuh sekarang? Mr. XYZ- 25 tahun - Baru dipamitan Mantan Nikah"
(saya lantas tertawa, miris sebenernya. beliau hanya menuntut saya membalasnya "ihhh R doaaang, balas dong" begitu ujarnya)
Saya: "Semua manusia pada satu titik akan berhenti. Entah untuk bersiap maju atau sekedar menyapu peluh. Semua manusia akan berhenti pada satu titik, bukan menyerah pada nasib tapi memberi ruang pada realita. Walau masih banyak bentang pilihan. Karena berhenti bukan pilihan, haruskah memilih untuk tidak memilih? (hanna, 24th, single, penuh kasih sayang dan segala yg kamu butuhkan. Call me *kedip kedip manja*) " -- Your turn master, ucap saya kemudian
Mr. XYZ: "Semua manusia akan berhenti pada satu titik. Saat dia tiba2 ditabrak takdir yang tak memberinya pilihan. Lalu tergopoh memilih yang ada di depan mata. Mr. XYZ, 25 tahun - Butuh cinta sejati"
Saya: "Semua manusia akan berhenti pada satu titik. Mungkin inilah saatnya ia berhenti karna ia tau cinta sejati tak harus dimiliki (hanna, 24 tahun, the girl who cant be moved)"
--Kemudian kami ngakak bersama. Ada jeda untuk makan malam dan berkumpul dengan keluarga, jadi gadget pintar kami simpan jauh-jauh dulu. Sampai akhirnya, sebuah kalimat masuk lagi ke gadget saya--
Mr. XYZ: "Semua manusia akan berhenti pada satu titik. Saat semua bintang berhenti menjadi penunjuk arahnya. Saat semua orang mulai sibuk dengan semestanya. Dan hari rabu semakin ragu-ragu. Namun ia akan berjalan terus, sesekali menengok untuk bercinta dengan kenangannya. Mr. XYZ - Setengah ngantuk setengah sadar"
Saya: "Semua orang akan berhenti pada satu titik. Entah karna kaki yang terlalu lelah atau cinta yang terlalu tua. Tak lagi berbalik dan berpikir 'tuk pergi. Mungkin karna malam terlalu larut atau karna cinta yang telah surut. Yang pasti, semua orang akan berhenti pada satu titik. Dimana pijakanmu pada bumi tak lagi menyatukan hati yang terpaut"
--Lantas kami mengucapkan selamat malam dan menemui peri malam--
Dengan menulis, kamu bisa membedakan mana kenyataan mana khayalan :)
Happy reading
Langganan:
Postingan (Atom)
